Pages

Showing posts with label fakta. Show all posts
Showing posts with label fakta. Show all posts

Saturday, 12 January 2013

Anak Kecil & Coretan Mustahil

Small Things Matter

Sebuah karakter luar, bisa jadi akan mencerminkan karakter dalam masing-masing individu, tapi tidak semua individu sama. Mungkin kalian pernah menemui seseorang yang memiliki karya yang mungkin membuat kalian menggelengkan kepala karena seseorang yang anda kenal itu hanyalah orang biasa saat terlihat dari karakter luarnya saja. Mulai sekarang, belajarlah untuk tidak menilai orang dari luarnya saja, karena mungkin saja orang itu menutupi keahliannya dengan melakukan hal-hal bodoh seperti yang dilakukan anak kecil. Mengapa? Karena orang itu lebih memilih untuk tidak mempublikasikan pribadinya.

Mungkin, setelah ini kalian sadar telah menemukan seseorang yang hanya akan terlihat seperti anak kecil yang masih labil dan belum punya pendirian. Iya memang benar, anak itu memang masih kecil karena usianya belum genap 16 tahun. Tapi seusia jagung itu, anak kecil tersebut memiliki prinsip "Orang lain meremehkan karyaku? Itulah hal biasa yang sering kudengar, yang terpenting aku tidak pernah meremehkan diri sendiri dan ingin mencoba hal-hal baru yang mungkin orang lain menganggapnya mustahil bagiku untuk melakukannya sendiri."

Dari sudut pandang orang yang berpikir realistis, anak itu hanyalah seorang pecundang yang hanya bisa berkhayal dan mustahil untuk menciptakan karyanya sendiri. Tapi itulah dia, beserta pola pemikirannya. Sebagian orang yang belum begitu memahaminya, akan berpikir coretan-coretan di dalam blog ini mustahil apabila anak kecil tersebut yang membuatnya.

"Jangan menilai orang sebelum mengenalnya
 jangan meremehkan orang lain sebelum bertanding melawannya
 dan jangan bicarakan orang sebelum bicara dengannya" -Mario Teguh

Tuesday, 8 January 2013

Umur dan Kedewasaan


Umur dan kedewasaan itu bukan seperti rumus F = m x a yang di mana semakin besar massa, semakin besar pula gaya yang dibutuhkan (berbanding lurus). Bukan juga seperti seperti rumus energi kinetik setengah m v kuadrat di mana besarnya energi kinetik berbanding lurus dengan kuadrat kecepatannya. Yang jelas umur dan kedewasaan itu tidak ada rumus yang pasti seperti yang ada di pelajaran fisika atau matematika. Umur dan kedewasaan juga tidak dapat dibuat grafik. Grafik linier, grafik parabola, grafik asimtot, atau grafik apa lah tidak dapat menggambarkannya. Kalaupun kalian ingin mencoba menggambarkannya dengan grafik, saya jamin grafik itu tidak lebih baik dari coretan garis yang dibuat oleh anak balita.

Oh ya! Sedikit peringatan sebelum Anda membaca lebih lanjut ke bawah. Ini hanyalah sebuah tulisan yang dibuat oleh seorang siswa kelas 2 SMA dan belum bisa dikatakan dewasa, bahkan jauh dari kata tersebut. Ini hanyalah sebuah tulisan yang dibuat berdasarkan pengamatan pribadi penulis yang belum hidup selama 16 tahun. Maka dari itu, jika Anda adalah hanyalah orang yang lebih tua dari saya yang akan mengatakan bahwa penulis sok dewasa atau semacamnya, lebih baik segera tutup halaman ini. Namun, jika Anda adalah orang dewasa yang membiarkan seorang anak kecil seperti saya mengeluarkan uneg-unegnya, silakan membaca lebih lanjut ke bawah. Terima kasih.

Lanjuuutt...

Saya akan membawa kalian mundur sedikit (atau banyak ya? tergantung umur, hehe) ke masa lalu. Ingat saat kita berganti seragam dari putih-merah menjadi putih-biru? Wah, berasa keren, ya? Udah jadi anak SMP, bukan anak SD lagi. Berasa lebih dewasa deh ya. Yak! Di masa ini kita udah mulai berasa dewasa. Baru 'berasa' doang (pandangan subjektif dari masing-masing individu) alias 'sok', sok dewasa! Asal nge-judge ini yang bener itu yang salah, ini yang haq ini yang batil, yang salah si ini yang bener si itu. Asal menghakimi padahal gak tau dasarnya apa. Emang deh, masa-masa SMP itu masa-masa lagi sok-soknya dan unyu-unyunya.

Saat seragam kita berganti lagi menjadi putih-abu, makin berasa dewasa deh, berasa makin keren juga. Di masa ini lebih ngerti mana yang benar dan mana yang salah, sayangnya emosi malah mengalahkan pengetahuan kita akan yang haq dan yang batil, yang salah dan yang benar. Karena itu, yang dapat mengendalikan emosinya lebih sukses menjadi dewasa ketimbang yang emosinya labil.

Ketika kita lanjut ke jenjang berikutnya, saat kita melepaskan seragam, kita akan merasa makin keren lagi dan lagi, berasa makin dewasa lagi. Saya memang belum melewati masa ini, tapi berdasarkan pengamatanku, masa kuliah (atau sudah lulus SMA) adalah masa di mana seseorang mulai benar-benar mengerti mana yang benar dan salah, mulai bisa mengendalikan emosi, mulai beranjak dewasa.

Akan tetapi, apakah semuanya selalu seperti itu?

No offense, guys, pada nyatanya banyak juga orang dewasa yang masih kekanakan dan banyak juga anak kecil yang sudah berpikiran dan bersikap dewasa. Coba kalian lihat di sekitar kalian, kurasa, ah salah! maksudku, aku yakin bahwa banyak orang yang lebih tua dari kalian, tapi jiwanya masih labil dan bersikap tidak dewasa, atau sebaliknya. Itulah keadaan yang ada di sekitarku.

Secara tidak langsung, kurasa pernyataanku tadi seperti orang yang sudah menganggap dirinya dewasa. Entahlah, aku pun tidak tahu. Sudah kubilang kan, saya menulis artikel ini menurut pandangan saya.

Oke, lanjut lagi...

Sebenernya apa sih yang penulis maksud tentang 'dewasa' di sini?
Dewasa adalah saat di mana seseorang sudah dapat mengetahui mana yang benar dan salah, mengendalikan emosi, dan mampu berpikir secara objektif.

Bagiku, yang menarik adalah poin ketiga: mampu berpikir secara objektif. Sulit bagi orang biasa untuk dapat berpikir secara objektif, itu menurut pandanganku terhadap orang-orang. Bagi saya sendiri, berpikir objektif itu tidak terlalu sulit karena saya memang 'benci' orang yang selalu berpikir subjektif. Apa yang menghalangi seseorang berpikir objektif? Nafsu. Ya, nafsu = emosi, kembali lagi ke emosi. Ternyata kedewasaan selalu lekat hubungannya dengan emosi.

Sekali lagi, umur dan kedewasaan itu tidak berbanding lurus. Tidak dapat digambarkan dalam grafik maupun dituliskan dalam rumus. Jangan berpatok pada orang yang lebih TUA dari kita, tapi berpatoklah pada orang yang lebih DEWASA dari kita. Atau salah-salah, kita malah menangkap ilmu yang salah kalo berpatok pada asal orang yang lebih tua.

Sekian tulisan argumentasi dari bocah 15 tahun yang tak dewasa ini.


              
          "salah saat kamu berkata untuk mencari orang yang lebih tua darimu, yang benar adalah kamu mencari orang yang lebih dewasa darimu"

Cuek Bukan Berarti Tidak Sayang


Sikap seperti ini (cuek) biasanya dimiliki oleh orang-orang cuek yang keliatan masa bodoh, tapi bukan berarti di hati mereka itu mereka gak punya cinta. Sikap orang cuek emang biasanya 99% bikin orang bete, tapi bukan maksud mereka bikin orang bete.



Orang cuek juga bisa cinta sama lawan jenis (maksudku buat orang cuek yg normal, haha). Cuma cara mereka nunjukinnya emang beda, mereka punya cara sendiri buat nunjukkin rasa cintanya. 

Orang cuek emang selalu keliatan nyebelin, apalagi di mata pasangannya. mereka keliatan ga peduli sama perasaan pasangannya. Padahal dalam hatinya mereka peduli, sangat sangat peduli. Cuma mereka nggak tau gimana caranya nunjukkin rasa peduli itu. 


Mereka pengen ngeliat kamu seneng, tapi kenyataannya mereka malah selalu bikin kamu bete gara-gara sikap cueknya itu. Mereka pengen ngebahagiain kamu, tapi bingung gimana cara yang pas buat bikin kamu bahagia. 


Terkadang mereka malah ngelakuin hal yang kamu gak suka berulang kali, itu bukan maksud mereka bikin kamu jengkel, tapi itu emang udah sifatnya yang seharusnya kamu bisa menerima kelemahannya di bidang perhatian. 


Kadang orang-orang cuek emang keliatan nyebelin di mata pasangannya. Mereka gak pernah nunjukin rasa cemburu kalo kamu lagi deket sama cowo atau cewe lain. Tapi asal kamu tau, dalam hati mereka rasanya pengen meledak, pengen teriak sekenceng-kencengnya kalo mereka takut kehilangan kamu, tapi mereka gak bisa ngelakuin itu. 


Kadang juga mereka keliatan kayak gak peduli kalo kamu sedih, padahal sebenernya mereka gak mau ngeliat kamu sedih. Rasanya mereka pengen meluk kamu, menghapus air mata kamu, dan bilang,"jangan sedih lagi ya sayang, kan masih ada aku yang sayang kamu." atau kata-kata sejenis itu. Tapi yang akhirnya keluar dari mulut mereka,"Udah, gak usah nangis. Jangan dipikirin." 


Orang-orang cuek biasanya jauh dari kata romantis. Mereka emang ga bisa ngebuai kamu dengan sikap-sikap romantisnya. Tapi percaya deh, mereka sebenernya berusaha untuk bisa keliatan romantis walaupun bagi kamu itu belom romantis. Misalnya mereka berusaha nahan ngantuk buat ngucapin selamat ultah pas jam 12 malem pas hari ultah kamu atau mungkin bikin kejutan-kejutan kecil yg bagi kamu ga berharga sama sekali, padahal butuh perjuangan buat mereka ngelakuin itu. 


Mereka jarang sms atau telpon kamu, bahkan untuk sekedar nanya,"Sayang, lagi ngapain? udah makan belom?" itu rasanya berat banget. Tapi bukan berarti mereka gak mikirin kamu. Mereka cuma bisa bertanya2 dalam hati "gimana kabarnya hari ini?" , "dia lagi apa ya?" , "udah makan belom dia ya?" , "lagi sama siapa ya?" 


Yang paling parah, ada orang cuek yang kalo suka sama seseorang, gak mau nunjukin perasaannya ke orang itu. Bahkan sampe orang itu cape nungguin pernyataan cinta trus akhirnya punya gebetan baru, mereka cuman gigit jari dan gak bisa ngelakuin apa-apa buat nyatain perasaannya kalo mereka bener-bener cinta sama orang itu. 


Yang terakhir, sebenernya orang-orang cuek itu bener-bener gak mau kehilangan orang yang disayang, sama kayak orang-orang normal lainnya. Tapi anehnya, mereka gak bisa nahan kamu waktu kamu bilang udah gak tahan sama sikapnya yang cuek. Mereka cuma bisa pasrah ngeliat kamu pergi. Tapi percayalah, dalam hati mereka, mereka bener-bener cinta dan sayang kamu. Mereka cuman mau yang terbaik buat kamu, biar kamu bisa bahagia, bukan menderita hidup sama orang cuek kayak mereka. Mereka cuma nungguin kamu yang ngasih kabar ke mereka dan waktu kamu udah ngasih kabar, hati mereka rasanya lega karna semua pertanyaan di hatinya udah kejawab.


         "setiap orang memiliki karakternya masing-masing
        jadi jangan beda-bedakan orang satu dengan orang lain
        karena itu anugrah dari Tuhan yang diberikan untuk kita"


Monday, 7 January 2013

Diam Bersuara

                                                                                                    


"silence is better than bullshit"

Hati-hatilah saat kamu mengucap kata, karena di manapun kamu berada dengan sepercik kata itulah yang bisa mencerminkan karaktermu. Hati-hatilah saat berbicara dengan orang lain, semua orang memiliki karakter berbeda-beda. Saat kamu berbicara dengan orang yang tidak bisa berpikir panjang, kalian mungkin akan menemukan kesulitan untuk memahaminya. Tetapi, saat kamu berbicara dengan orang yang selalu diam, jangan pernah sekalipun kamu pikir orang tersebut tidak bisa menghargai kamu....Itu salah besar!

Mengapa? 

Karena mereka yang diam bukan berarti tidak tahu, mereka tahu dan paham namun mereka lebih memilih untuk menghindari kegaduhan. Mereka bukan benci perdebatan namun mereka menganggap pencarian solusi lebih utama dibanding membicarakan masalah. mereka memang diam, namun sebenarnya mereka pun jengah. Mereka tahu namun tidak ingin ribut. Mereka paham namun tidak ingin menggurui. Mereka memang diam, mereka punya solusi namun mereka tidak mencari publikasi. Mereka berkontribusi namun tidak dengan sok aksi. Ya mereka diam karena mereka memilih untuk diam, mereka yang diam bukan berarti tak pernah berpikir, mereka yang diam bukan karena tidak peduli, mereka diam karena diam lebih baik.